D'Bio Blog

Beranda » kisah/cerita » guru dan anak hiperaktif

guru dan anak hiperaktif

Suatu hari ada seorang pemuda panggil aja namanya uddin (bukan nama sebenarnya), ia baru saja menyelesaikan studi S1 di sebuah kampus swasta dengan mendapatkan gelar sarjana pendidikan. ia termasuk beruntung, karena ia tidak merasakan menjadi pengangguran. Ketika mendekati masa wisudanya ia mendapatkan sebuah pekerjaan di lembaga bimbingan belajar. Ia mendapatkan pekerjaan itu berkat rekomendasi temannya kepada pengelola bimbel tersebut. Berbagai pengalaman ia peroleh dari bimbel tersebut, namun entah mengapa sekarang bimbel tersebut tidak pernah menghubunginya lagi. Kejadian itu tidak ia pikirkan, dauf pernah mendaftar sebagai guru disebuah sekolah dasar swasta meskipun tidak sesuai bidangnya. Ia menikmati pekerjaannya, hari-hari pertama masuk sebagai tenaga pengajar ia lalui dengan magang di Play Group yang masih satu atap lembaga dengan SD tersebut.

Berbagai kejadian ia alami, murid-murid yang masih begitu polos dengan celotehnya masing-masing memuatnya tertawa. Ada beberapa anak yang bisa dibilang hiperaktif, namun yang paling hiperaktif sehingga membuat guru-guru yang ada disana merasa kualahan manghadapi polah tingkahnya.

Bagaimana polah tingkah anak ini berbeda dengan anak lainya sebuut saja namanya dion, dion mudah merasa bosan ia ingin selalu diperhatikan. Pernah suatu ketika udin meninggalkan kelas belajarnya dan tidak seorang guru pun yang tahu kemana dia, akhirnya para guru mendapatkan laporan dari warga sekitar bahwa ada seeorang anak didik mereka yang jalan-jalan sendirian main kekantor polisi, pasar dan bahkan rumah kosong dekat sekolahan.

Uddin merasa tertarik untuk lebih memperhatikan dan mempelajari karakter dion, suatu ketika dion tidak mau untuk ikut belajar dengan teman-temannya. Ia pilih bermain ayunan sendirian, uddin mencoba membujuk agar dion mau ikut belajar dengan teman-temannya. Namun dion tidak mau apabila dipaksa ia akan marah, uddin pun membiarkannya sejenak. Beberapa saat kemudian uddin mendatanginya kembali, kemudian menanyakan “dion kok tidak ikut belajar kenapa?”

dion: tidak mau, aku ingin main ayunan

uddin: mainnya nanti lagi yach, tuch temen-temennya pada belajar.

dion: biarin, aku pengen main aja.

uddin: ya sudah, nanti udin tidak punya temen terus kalau tidak ikut belajar.

dion: biarin….

uddin: ya sudah nanti kalau sudah mainnya dion ikut masuk ya!!

uddin pun meninggalkan dion sendirian, namun ternyata selang lima menit kemudian dion tiba-tiba masuk dan duduk meskipun tidak bisa diam dan tidak terlalu lama di dalam kelas. Tiba-tiba dion mengambil tasnya dan mengambil sebuah makanan ringan, ia mencoba membukanya sendiri tapi tidak bisa. Akhirnya dion ini mendekati uddin guru yang mungkin dia anggap lebih dekat, ia minta uddin untuk membukakan makanannya:

dion: bukain! (sambil menyerahkan makanannya)

uddin: eh kan masih belajar, makannya nanti yach. sebentar lagi kan istirahat nanti boleh makan.

dion: g mau, bukaiiin! (dengan berteriak!)

uddin: gak mau, tunggu istirahat dulu nanti dibukain

dion: sekarang!

uddin pun hanya diam, namun akhirnya dion pun mengikuti kata uddin untuk membuka makanannya ketika istirahat. bersambung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Jam

%d blogger menyukai ini: